Berita
Indonesia tengah berduka. Bencana yang melanda tiga provinsi—Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat—menyisakan luka sekaligus memanggil kembali ruh solidaritas bangsa. Di tengah kondisi darurat, berbagai elemen masyarakat dari beragam suku, agama, dan latar belakang justru tampil memperlihatkan jati diri Indonesia: bergerak bersama, saling membantu, dan berlomba-lomba dalam kebaikan.
Dari aksi penggalangan dana, dapur umum, hingga relawan yang turun langsung ke lokasi bencana, semangat gotong royong tumbuh kuat. Tak hanya digerakkan oleh rasa kemanusiaan, aksi-aksi tersebut juga terhubung oleh solidaritas kebangsaan, bahkan solidaritas antarperantau yang terpanggil untuk membantu saudara sebangsa.
Teladan Aksi Nyata: Menanam 100.000 Pohon dan Gerakan Kemanusiaan
Di tengah situasi bencana, masyarakat diajak kembali melihat teladan aksi kemanusiaan yang telah dilakukan berbagai kalangan. Oktober lalu, Jemaat Muslim Ahmadiyah Indonesia (JMAI) mencatat sejarah dengan menanam 100 ribu bibit pohon yang dilakukan serentak di seluruh Indonesia, bekerja sama dengan Kementerian Kehutanan.
Gerakan ini menunjukkan bahwa kerukunan antarumat beragama tidak hanya berdimensi sosial, tetapi dapat bertransformasi menjadi kekuatan ekologis untuk penyelamatan lingkungan. Penanaman pohon menjadi kontribusi nyata bagi upaya penghijauan dan mitigasi iklim, selaras dengan program pemerintah dalam mendorong keberlanjutan lingkungan.
Selain itu, berbagai aksi sosial lain seperti donor darah, donor mata, dan kegiatan bersih lingkungan juga terus digerakkan, bahkan pada momen ketika banyak orang tidak memperhatikannya. Semua ini menjadi cermin bahwa nilai kemanusiaan tidak mengenal batasan.
ICRP: Rumah Bersama Keberagaman Indonesia
Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP), lembaga independen yang didirikan Presiden ke-4 RI KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan Djohan Effendi, kembali menegaskan komitmennya sebagai Rumah Bersama bagi seluruh golongan di Indonesia.
Sebagai organisasi lintas iman, ICRP menyoroti pentingnya dialog inklusif untuk mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya poin 16 mengenai Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan yang Tangguh.
ICRP memastikan bahwa prinsip No One Left Behind harus menjadi pijakan utama: tidak boleh ada seorang pun warga negara yang tertinggal hanya karena perbedaan agama atau kepercayaan. Langkah ini menjadi bentuk penjagaan atas hak-hak sipil dan martabat kemanusiaan.
“ICRP hadir sebagai titik nol, ruang perjumpaan untuk siapa saja. Kami melayani semua, termasuk kelompok minoritas yang sering luput dari perhatian,” ujar Direktur Eksekutif ICRP, Ilma Sovri Yanti.
“3H”: Fondasi Kerja Bersama Lintas Iman
Konsep “3H” yang digagas Ketua Umum ICRP, Prof. Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed., kembali ditegaskan sebagai metode pendekatan lintas iman yang relevan untuk Indonesia hari ini:
1. Head to Head – Dialog pemikiran yang jujur dan terbuka.
2. Heart to Heart – Penerimaan perbedaan dengan ketulusan hati.
3. Hand to Hand – Kerja sama nyata melalui aksi sosial dan kemanusiaan.
“Toleransi saja tidak cukup. Kita perlu literasi lintas budaya agar tumbuh empati dan kemampuan memahami orang lain,” tegas Ilma.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Jemaat Muslim Ahmadiyah Indonesia atas kontribusi kemanusiaan yang berkelanjutan.
“Karya-karya 100 tahun Jemaat Muslim Ahamadiyah Indonesia (JMAI) telah menggoreskan jejak dalam sejarah peradaban manusia. Kasih kepada sesama adalah cara memuliakan yang lain.”
Pesan untuk Milad JMAI
Di akhir penyampaiannya, Ilma memberikan ucapan selamat Milad untuk JMAI.
“Teruslah membangun negeri dari lorong-lorong sunyi,” ujarnya, seraya menegaskan bahwa aksi kemanusiaan, betapapun sederhana, tetap memiliki dampak besar bagi masa depan bangsa.
Dalam suasana duka Banjir Sumatera, Indonesia sekali lagi membuktikan bahwa persatuan tidak hanya slogan. Ia hidup dalam tindakan: menolong, berempati, dan bergerak bersama. Solidaritas lintas iman, seperti yang diperkuat ICRP dan berbagai komunitas, menjadi energi pemulih yang menjaga Indonesia tetap berdiri sebagai rumah bersama.
*(Iks)*
Artikel lainnya dalam kategori yang sama
SOLOK – 31 hari sudah Sumatera Barat tertimpa bencana Ekologi, yang di kenal dengan Galodo. Situasi yang berada di Sumat...
28 Dec 2025
JAKARTA – Ikatan Keluarga Muaro Pingai (IKMP) se-Jabodetabek menggelar rapat konsolidasi ke 2 pada Minggu (7/12/2025) d...
07 Dec 2025
Bencana Galodo (Banjir Bandang) yang membawa duka baik jiwa, materi dan penderitaan di Pulau Sumatera, telah memanggil I...
30 Nov 2025
SOLOK/JAKARTA – Bencana banjir bandang telah menerjang Desa Muaro Pingai, Kecamatan Junjung Sirih, Kabupaten Solok, Suma...
28 Nov 2025
JAKARTA, 28 November 2025 – Ketua Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan), Maria Ulfah Ansh...
28 Nov 2025
JAKARTA, 28 November 2025 – Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Republik Indonesia sekaligus Ketua Umum...
28 Nov 2025
Jadilah bagian dari komunitas yang berkomitmen membangun perdamaian dan toleransi di Indonesia
Bergabung Sekarang